Minggu, 11 Desember 2011

makalah dinasty abbasiyah


PERADABAN DINASTI ABBASIYAH
SEBUAH TINJAUAN
DI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2011/2012
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

[000259].gif




                                                                               Di susun oleh:
RENDI
11690018

PRODI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Jl.Marsda Adisucipto,No. 1 Tlp.(0274)519739,Fax. (0274)540971 Yogyakarta 55281
2011


KATA PENGANTAR


Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala rahmat dan hidayah-Nya bagi semua penciptan-Nya.Shalawat serta salam semoga tetap di limpahkan kepada nabi besar kita Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam,beserta keluarga,para sahabat,dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang peradaban Dinasty Abbasiyah ini,yang bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam.Penulisan ini mengangkat judul  tentang“Peradaban Dinasti Abbasiyah”.Pemilihan judul tersebut selain untuk memenuhi kriteria pembuatan makalah sebagai tugas mata kuliah sejarah kebudayaan islam juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman penulis terhadap teori yang disesuaikan dengan materi kuliah tersebut.Ucapan terima kasih juga ditunjukan kepada:
               1. Muh.Fathan,S.Ag,Selaku Dosen mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam
2.Anis Yuniati, M.Si.,selaku Dosen Pembimbing Akademik
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Tugas ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah penulis harapkan supaya dapat menyusun tugas kedepannya dengan lebih baik.Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas perhatiannya dan semoga Tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.





Yogyakarta,…………..2011



                                                                                                                                       (Penulis)


DAFTAR ISI

COVER…………………………………………………………………………………………….2
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………..3
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………4
BAB I Pendahuluan
1.1.Latar Belakang…………………………………………………………………………5
1.2.Rumusan Masalah…………………………………………………………………………5
1.3.Tujuan Pembuatan Makalah………………………………………………………….6
1.4.Manfaat Pembuatan Makalah……………………………………………………….6
1.5.Metode Pembuatan Makalah………………………………………………………..6
BAB II Pembahasan
2.1. Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah ……………………………………………8
2.2.Sistem pemerintahan Dinasti Abbasiyah……………………………………….10
2.3.Perkembangan IPTEK Dinasti Abbasiyah……………………………………….11
2.4.Hasil kebudayaan dinasti Abbasiyah………………………………………………13
2.5.Faktor kemunduran dan kejayaan Dinasti abbasiyah……………….……13
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan…………………………………………………………………………15
3.2.Saran…………………………………………………………………………………15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………16






                                                 BAB I
PENDAHULUAN


1.1.LATAR BELAKANG
Pembahasan tentang sejarah islam memang sangat penting untuk di telaah,karena sebuah kejadian itu didasari dan bisa dipelajari karena adanya suatu sejarah atau kejadian masa lampau.Namun banyak diantara kita yang sering menganggap remeh sejarah bahkan mereka sering lupa akan sejarah yang terjadi disekitarnya karena mereka anggap sejarah itu tidak penting,namun kenyataannya berkebalikan karena sebuah keadaan yang ada sekarang semuanya tidak luput dari sejarah.
Dari sekian banyak umat islam di Indonesia,masih banyak orang yang kurang mengetahui akan sejarah peradaban islam jaman dahulu.Diantaranya adalah sejarah dinasti Umaiyah,Abbasiyah,Turki Osmani dsb.Namun pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang peradaban dimasa dinasti Abbasiyah.Dinasty Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam.Namun didalam kesuksesan dimasa itu kita akan mengungkap kenyataan yang ada tentang tata cara dinasti itu berkembang,bertahan,sampai dengan kemundurannya.
Diharapkan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam juga bisa  menambah luas pengetahuan pembaca tentang ilmu Sejarah tentang peradaban Islam.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
Ø  Siapakah pelopor Daulah Abbasiyah?
Ø  Bagaimanakah sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah?
Ø  Bagaimanakah sistem pemerintahan dimasa Daulah Abbasiyah?
Ø  Bagaimanakah perkembangan Iptek dimasa Daulah Abbasiyah?
Ø  Apa sajakah hasil kebudayaan Daulah abbasiyah?
Ø  Apa sajakah faktor-faktor kemudnduran atau kejayaan pada daulah Abbasiyah?





1.3.TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibahas diatas maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
Ø  Mengetahui  Siapakah pelopor Daulah Abbasiyah
Ø  Mengetahui sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah
Ø  Mengetahui sistem pemerintahan dimasa Daulah Abbasiyah
Ø  Mengetahui perkembangan Iptek dimasa Daulah Abbasiyah
Ø  Mengetahui hasil kebudayaan Daulah abbasiyah
Ø  Mengetahui faktor-faktor kemudnduran atau kejayaan pada daulah Abbasiyah
1.4.MANFAAT PEMBUATAN MAKALAH
Berdasarkan tujuan dari pembuatan makalah diatas maka penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat terhadap beberapa kalangan.Yaitu:
ü  Penulis
ü  Mahasiswa
ü  Dosen,dan
ü  Masyarakat
1.5.METODE PEMBUATAN MAKALAH
Dalam makalah ini,Penulis mengumpulkan sejumlah data yang ada dengan pengumpulan data dari media buku  sebagai metode dasar dan sekaligus suatu syarat pembuatan makalah dari dosen mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam,selain itu penulis juga mengambil tambahan materi dari sebuah Ebook dan salah satu situs jejaring sosial.
1.6.SISTEMATIKA MAKALAH
BAB I Pendahuluan
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Pembuatan Makalah
1.4.Manfaat Pembuatan Makalah
1.5.Metode Pembuatan Makalah
BAB II Pembahasan
2.1. Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah
2.2.Sistem pemerintahan Dinasti Abbasiyah
2.3.Perkembangan IPTEK Dinasti Abbasiyah
2.4.Hasil kebudayaan dinasti Abbasiyah
2.5.Faktor kemunduran dan kejayaan Dinasti abbasiyah

BAB IV PENUTUP
4.1.Kesimpulan
4.2.Saran































BAB II
PEMBAHASAN



2.1.SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH
Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama seorang dari paman Nabi SAW  yang bernama Al-Abbas ibn Abd al-Muthallib ibn Hasyim ia seorang pribadi yang tangguh dan mengambil peranan penting didalam nerdirinya Dinasti Abbasiyah sekaligus sebagai khalifah pertama pada Dinasti ini.Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H.Pergerakan Dinasti abbasiyah ini telah Nampak sejak Daulah Bani Umayah dipegang oleh khalifah ibnu Abdul Azis,ini dikarenakan beliau sangat lunak terhadap bani Hasyim dan juga beliau tidak suka kepada pertumpahan darah.
Namun secara resminya gerakan ini dimulai ketika kekhalifahan bani umayah dipegang oleh Hasyim ibnu Abdul Malik.Disamping itu mereka juga mendapat dukungan yang kuat dari partai syi’ah.Oleh karena itu,dengan mudah saja mereka menggulingkan khalifah selanjutnya yaitu Marwan ibnu Muhammad.Dengan meninggalnya Marwan maka berakhirlah riwayat Dinasti Umayah.Pada tahun 132 H(749 M) diproklamirkan berdirinya Dinasti abbasiyah dibawah pimpinan Abu Abbas Assafah.Dinasti ini sendiri tidak dinamakan dengan bani Hasyim tapi dinamai dengan Dinasti Abbasiyah,yang dinisgahkan kepada Abbas bin abdul Muthalib,datuk Rasulullah SAW.Walaupun Abu Abbas Assafah sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tapi yang dianggap sebagai pendirinya adalah Abu Ja’far Al-Mansyur,yang memerintahh tahun 136  H (754 M),yang mengganti abbas.Hal ini disebabkan semua khalifah Bani Abbasiyah selanjutnya dipimpin oleh keturunan Abu Ja’far Al-Mansyur dikarenakan Abu Abbas tidak memiliki keturunan.
Para khalifah dinasti Abbasiyah ini kurang lebih berjumlah 29 orang.Namun dari sekian banyak Khalifah tersebut kami hanya menyajikan sebagian dari khalifah Abbasiyah saja terutama yang kami bahas adalah pada fase Kemajuannya.

Ø  Abu Abbas As-Saffah,khalifah pertama.(132-136 H)
Beliau adalah khalifah pertama bagi Dinasti abbasiyah dan masih berstatus satu keturunan dengan Rasulullah SAW.Yang titik temunya adalah beliau sebagai Datuk Rasulullah SAW,yaitu Abdul Muthalib.Beliau dilantik menjadi khalifah pada tahun 132 H(754 M) di Kuffah.
Beliau dinobatkan sebagai khalifah sewaktu Bani Umayah dibawah pimpinan khalifah Marwan ibnu Muhammad masih berkuasa.Karena tujuan utama beliau menstabilisasikan pemerintahannya maka Abu Abbas tidak segan-segannya untuk menumpahkan darah dan menyembelih siapa saja yang menentang Bani Abbasiyah.Itulah sebabnya beliau diberi julukan:As-saffah yang artinya adalah penumpah darah.Dan kemudian pada tahun 136 H As-Saffah meninggal dunia.Maka berakhirlah masa kekhalifahan yang dipimpin oleh beliau yang kurang lebih 4 tahun lamanya.
Ø  Abu Ja’far Al-Manshur,khalifah kedua(136-158 H)
Beliau merupakan salah satu seorang khalifah Bani Abbasiyah yang dapat membawa kejayaan Dinasti abbasiyah.Oleh karena itulah beliau dianggap sebagai tokoh pembangunan Dinasti Abbasiyah.Al-Manshur adalah orang yang tegas dan bisa dikatakan kejam,karena beliau selalu membinasakan setiap orang yang dianggapnya membahayakan kedudukan beliau.Diceritakan bahwa suatu ketika paman beliau ditugaskan oleh Khalifah sebelum AL-Manshur,dengan perintah  apabila paman beliau yaitu Abdullah bin Ali (Gubernur Damaskus) dapat menumpas Marwan ibnu Muhammad Khalifah Umayah beliau akan diangkat menjadi khalifah setelah As-saffah meninggal dunia.Dan akhirnya Abdullah bin Ali berkhasil melaksanakan misi tersebut.Namun nyatanya setelah As-Saffah meninggal dunia ternyata yang diangkat menjadi  khalifah berikutnya adalah Al-Manshur,maka Abdullah bin Ali menuntut kepada Al-Manshur untuk menjadi khalifah yang kedua.Tapi usaha pamannya itu dapat di gagalkan oleh Al-Manshur dengan cara mengirim panglimanya Abu Muslim Al-Khurasani,untuk membunuhnya.Dengan itu berakhirlah ancaman terhadap Al-Manshur.
Kemudian selain itu beliau juga membunuh panglimanya sendiri Abu Muslim Al-Khurasani yang banyak membantunya dengan alasan sang panglima itu sangat angkuh dan tidak patuh terhadapnya.Caranya yaitu beliau memanggil panglimanya keistana dan dengan tipu daya muslihatnya Abu Muslim kemudian dibunuh.Setelah Abu Muslim mati maka Al-Manshur mulai mengarahkan perhatiannya kepada Bani syi’ah yang dulunya banyak berjasa didalam menegakkan Dinasti Abbasiyah.Kaum syi’ah mulai mengadakan pemberontakan pada waktu itu dikarenakan khalifah mengabaikan jasa-jasa mereka yang dahulu.Maka pada tahun 145 H dibawah pimpinan Muhammad bin Abdullah,kaum Syi’ah di Hijaz mengadakan perlawanan terhadap Al-Manshur tetapi pemberontakan itu dapat dimusnahkan oleh khalifah.
Selain itu Bangsa barbar di Afrika utara yang ditaklukan Dinasti Umayah merasa tidak senang kepada bangsa arab dalam memerintah negerinya,walaupun pada saat itu mereka sudah masuk Islam.Dan pada saat-saat Bani Umayah mengalami  kemunduran mereka berhasil memisahkan diri dari Bani Umayah dan mereka menciptakan pemerintahan sendiri.tapi sayangnya mereka saling berebut dalam masalah kepemimpinan.Oleh karena itu,dengan mudha Khalifah Al-Manshur mengambil kembali daerah itu untuk masuk kedalam wilayah Daulah Abbasiyah.
Dan yang terakhir adalah saingan terberatnya lagi adalah:Kerajaan Bizantium, Dinasti Umayah yang masih hidup di Andalus,dan Kerajaan Romawi yang letaknya sangat dekat dengan mereka.untuk menjaga kestabilan daerah tersebut maka Al-Manshur mengadakan perjanjian damai dengan Romawi selama  7 tahun.kemudian tahun 150 H(775 M) beliau wafat,maka berakhirlah masa kepemimpinannya yang berlangsung kurang lebih selama 22 tahun.
Ø  Harun Al-Watsik khalifah ke Sembilan(227-232 H)
Pada kepemimpinan khalifah Abu Abbas dan al-Manshur pemerintahan terasa stabil,karena tindakan-tindakan tegas yang pernah dilakukan oleh khalifah Abu Abbas dan Al-Manshur.Sehingga masa berikutnya adalah masa peralihan dari masa pemberontakan kepada masa perdamaian.Namun awal dari kemunduran Dinasti abbasiyah adalah pada kepemimpinan Khalifah Harun.
Khalifah harun ini memerintah menurut jejak ayahnya Al-Mu’tashim,yaitu memberikan kesempatan bangsa Turki untuk menduduki jabatan-jabatan penting didalam lingkungan Dinasti Abbasiyah.Disamping itu beliau juga sangat lunak dan lemah serta tidak suka pada peperangan.Dengan kelemahan beliau inilah menimbulkan beberapa masalah,diantaranya:
ü  Pengaruh orang-orang Turki  bertambah kuat,untuk menduduki tahta Khalifah.
ü  Timbul pemberontakan kaum Khawarij di Hijaz.
ü  Timbul huru-hara di mosul yang dikoordinir oleh suku bangsa Kurdi.
Dengan demikian,boleh dikatakan dimasa Harun menjadi Khalifah,disana-sini terjadi nkericuhan yang tidak ada henti-hentinya.Akubatnya penduduk Baghdad mengadakan resolusi supaya beliau turun dari tahta kekhalifahannya.
Pada tanggal 24 Zulhijah tahun 232 M.Khalifah Harun meninggal dunia dalam usia 36 tahun.Beliau menjabat sebagai khalifah selama kurang lebih 5 tahun.Dengan wafatnya beliau ini berarti berakhirlah masa keemasan Dinasti abbasiyah.Untuk periode seterusnya,mulai dari khalifah ke sepuluh sampai khalifah yang seterusnya Dinasti abbasiyah mengalami kemunduran.Hal ini disebabkan,khalifah-khalifah tersebut dipimpin oleh bangsa Turki.


      
2.2.SISTEM PEMERINTAHAN DINASTI ABBASIYAH
 Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan(Khalifah)adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur “Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya “. Pada zaman Dinasti Bani Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,sosial,dan kebudayaan. Sistem politik yang dijalankan pada masa dinasti Abbasiyah antara lain:
ü Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima,Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali
ü  Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
ü  Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia .d.Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .
ü  Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214)
          Selanjutnya periode II , III , IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudahmengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakannegara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat , kecuali pengakuan politik saja . Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya ,dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahansendiri misalnya saja munculnya Daulah-Daulah kecil, contoh; daulah BaniUmayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah . Pada masa awal berdirinyaDaulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah BaniAbbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu :
1. tindakan keras terhadapBani Umayah . dan
2. pengutamaan orang-orang turunan persi  Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itudibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat . Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu:
1)Wizaraat Tanfi (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah.
2)Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagailambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinastilokal sebagai gubernurnya Khalifah (Lapidus,1999:180). Selain itu, untuk membantuKhalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah(sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab(sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara,wazir dibantu beberapa raisul diwan(menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy.Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang,amirul umara,baitul maal , organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial,ekonomi dan budaya.lebih jelasnya adalah:
Kekuasaan dengan sistem sentralistik yaitu pada masa:
a. Abul Abbas as-saffah (750-754 M)
b. Abu Ja’far al mansyur (754 – 775 M)
c. Abu Abdullah M. Al-Mahdi bin Al Mansyur (775-785 M)
d. Abu Musa Al-Hadi (785—786 M)
e. Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid (786-809 M)
f. Abu Musa Muh. Al Amin (809-813 M)
g. Abu Ja’far Abdullah Al Ma’mun (813-833 M)
h. Abu Ishak M. Al Muta’shim (833-842 M)
i. Abu Ja’far Harun Al Watsiq (842-847 M)
j. Abul Fadhl Ja’far Al Mutawakkil (847-861)
2. Periode kedua (232 H/847 M – 590 H/1194 M)
Pada periode ini, kekuasaan bergeser dari sistem sentralistik pada sistem
desentralisasi, yaitu ke dalam tiga negara otonom :
a. Kaum Turki (232-590 H)
b. Golongan Kaum Bani Buwaih (334-447 H)
c. Golongan Bani Saljuq (447-590 H)


2.3.PERKEMBANGAN IPTEK PADA MASA DINASTI ABBASIYAH
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam. Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma).                    Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3,                                                                                          4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Dinasti Abbasiyah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat. Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Saat itu, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna. Sebelum Islam dating,Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahyul. Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab. Lain lagi pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah di Barat disebut Ottoman  yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.
Kemajuan bidang pengetahuan dan teknologi lain yang telah dicapai meliputi:
Geometri, perhatian cendekiawan muslim terhadap geometri dibuktikan oleh karya-karya matematika. Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi telah menciptakan ilmu Aljabar. Kata al-Jabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibah. Ahli geometri muslim lain abad itu ialah Kamaluddin ibn Yunus, Abdul Malik asy-Syirazi yang telah menulis sebuah risalah tentang Conics karya Apollonius dan Muhammad ibnul Husain menulis sebuah risalah tentang “Kompas yang sempurna dengan memakai semua bentuk kerucut yang dapat digambar”. Juga al-Hasan al-Marrakusy telah menulis tentang geometri dan gromonics. Trigonometri, pengantar kepada risalah astronomi dari Jabir ibnu Aflah dari Seville, ditulis oleh Islah al-Majisti pada pertengahan abad, berisi tentang teori-teori trigonometrikal. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Fargani yang dikenal di Eropa dengan nama al-Faragnus menulis ringkasan ilmu astronomi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
Musik, banyak risalah musikal telah ditulis oleh tokoh dari sekolah Maragha, Nasiruddin Tusi dan Qutubuddin asy-Syirazi, tetapi lebih banyak teoritikus besar pada waktu itu adalah orang-orang Persia lainnya. Safiuddin adalah salah seorang penemu skala paling sistematis yang disebut paling sempurna dari yang pernah ditemukan. Geografi, al-Mas’udi ahli dalam ilmu geografi diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma’aadzin al-Jawahir.
Antidote (penawar racun), ibnu Sarabi menulis sebuah risalah elemen kimia penangkal racun dalam versi Hebrew dan Latin. Penerjemahan dalam bahasa Latin (mungkin suatu adaptasi atau pembesaran) terbukti menjadi lebih populer dan lebih berpengaruh daripada karya aslinya dalam bahasa Arab. Di bidang kimia terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan sesuatu zat tertentu.Ilmu kedokteran dikenal nama al-Razi dan ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya ilmu kedokteran berada di tangan ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosuf berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitami, yang di Eropa dikenal dengan nama al-Hazen. Dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata.
Filsafat, tokoh yang terkenal adalah al-Farabi, ibn Sina dan ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa’. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.

·         E. Tokoh-tokoh/ Para ilmuwan zaman Abbasiyah
Para ilmuwan yang lahir dari peradaban abbasiyah adalah para ilmuwan yang sangat dikenal di berbagai pelosok dunia. Buku-buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuwan lainnya, baik di Barat maupun di Timur.
v  Bidang Astronomi: Al-Fazari, Al- Fargani (Al-Faragnus), Jabir Batany, Musa bin Syakir, dan Abu Ja’far Muhammad.
v  Bidang Kedokteran: Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Masiwaihi, Ibnu Sahal, Ali bin Abbas, Al-Razi, Ibn Rusyd, dan Al-Zahawi.
v  Bidang Optika: Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythani (al-Hazen).
v   Bidang Kimia: Jabir ibn Hayyan dan Ibn Baitar.
v  Bidang Matematika: Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, Tsabit ibn Qurrah al-Hirany, dan Musa bin Syakir.
v   Bidang Sejarah: Al-Mas’udi dan Ibn Sa’ad.
v   Bidang Filsafat: Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan Musa bin Syakir.
v  Bidang Tafsir: Ibn Jarir ath Tabary, Ibn Athiyah al-Andalusy, Abu Bakar Asam, dan Ibn Jaru al-Asady.
v  Bidang Hadis: Imam Bukhori (karyanya adalah kitab al-Jami’ al-Shahih yang merupakan kumpulan hadis), Imam Muslim, Ibn Majah, Baihaqi, dan At-Tirmizi.
v  Bidang Kalam: Al-Asy’ari, Imam Ghozali, dan Washil bin Atha.
v   Bidang Geografi: Syarif Idrisy dan Al-Mas’udi.
v  Bidang Tasawuf: Shabuddin Sahrawardi, Al-Qusyairi, dan Al-Ghozali (karya terpentingnya adalah Ihya ‘Ulum al-Din.
v  Munculnya empat madzhab: Al-Syafi’i (peletak dasar ilmu ushul fiqih dan pencetus teori ijma’ (konsensus) yang menjadi salah satu sumber syari’ah), Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi.

2.4.HASIL KEBUDAYAAN DINASTI ABBASIYAH
2.5.FAKTOR-FAKTOR KEMUNDURAN DAN KEJAYAAN DINASTI ABBASIYAH
Ø  Faktor-faktor kemunduran Dinasti Abbasiyah
A.      Faktor Internal
1.       Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
2.       Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
3.       Kemerosotan Perekonomian
4.        Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
B.      Faktor Eksternal
1.     Perang Salib
2.     Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah
Ø  Faktor-faktor kejayaan Dinasti abbasiyah
1.       Kekuasaan para khalifah yang otoriter
2.       Para khalifah yang tegas dan tidak pandang bulu
3.       Kekuatan tentara perang yang solid
4.       Adanya kemajuan dibidang Iptek yang mendukung majunya pemerintahan
5.       interaksi  kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir), Suriah, serta wilayah Asia Barat, khususnya Persia.
6.       Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh
dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada
Arab.




















                            BAB III
PENUTUP


3.1.KESIMPULAN
Dinasti Abbasiyah adalah masa kejayaan peradaban Islam.Dimana pada masa Dinasti Abbasiyah ini Islam sangat berkembang pesat meninggalkan peradaban yang lain dibelakangnya,namun dikala adanya suatu kejayaan disitupun aka nada suatu keruntuhan.begitupun yang terjadi terhadap Dinasti Abbasiyah,setelah lama memegang peradaban dunia akhirnya Dinasti Abbasiyah juga mengalami kemunduran.Puncaknya adalah ketika kota Baghdad dan semua isinya dibumihanguskan oleh pasukan tartar,kemudian setelah itu kota kebudayaan Islam yang bersejarah itu kini tinggal puing-puing saja.
·         Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H.
·         Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu                                                                                                                                                                                                                                         filsafat, ilmu kalam, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu hisab, sejarah, ilmu bumi dan astronom.
·         Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist, ilmu     tafsir, ilmu fiqih, tasawuf.

3.2.SARAN
Berdasarkan uraian singkat yang terdapat diatas penulis berharap kepada para pembaca supaya bisa memahami bahwa walaupun peradaban Islam pernah mengalami masa kejayaannya,janganlah kita terlalu asyik dan sombong atas keadaan itu karena sekarang peradaban dunia diambil alih oleh orang-orang barat.Hendaknya sebuah sejarah yang kita ketahui ini bisa menjadikan pelajaran kepada kita supaya bisa menuju masa depan yang lebih baik.
 Demikianlah makalah tentang peradaban Dinasti Abbasiyah yang kami buat. Semoga sedikit uraian kami ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Penulis sangat menyadari, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan adanya kritikan yang konstruktif dan sistematis dari pembaca yang budiman, guna melahirkan penyusulan makalah selanjutnya yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA 

Drs.M.Noor Matdaman.1998.Lintasan Sejarah Kebudayaan Islam.Yogyakarta
Drs.Achmadi Wahid.2008.Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Peradaban Islam, Jakarta: balai Pustaka






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar